Beban Tak Terlihat Seorang Petugas Kebersihan: Ketika Kerja Keras Tak Sejalan dengan Penghargaan
Pekerjaan kebersihan sering kali dianggap sederhana. Padahal, di balik lantai yang bersih dan toilet yang layak digunakan, ada tenaga, waktu, dan fokus yang terkuras setiap hari. Sayangnya, tidak semua lingkungan kerja mampu melihat itu secara adil.
Seorang petugas kebersihan bisa saja memikul tanggung jawab membersihkan gedung tiga lantai, mengurus beberapa toilet produksi, hingga toilet tamu. Beban fisik itu sudah berat, namun persoalan tidak berhenti di sana. Dalam praktiknya, tugas kebersihan kerap bercampur dengan pekerjaan lain yang seharusnya berada di luar tanggung jawab.
Mulai dari disuruh mengurus ke bank untuk transaksi administrasi, mengantar barang milik anak perusahaan yang hanya “menumpang”, hingga diminta membeli barang secara online dengan uang pribadi karena alasan mendesak. Semua dilakukan bukan karena kewenangan, melainkan karena posisi yang dianggap “paling bisa disuruh”.
Ironisnya, saat hasil kebersihan dinilai kurang maksimal, yang muncul justru kemarahan dan perbandingan. Dibandingkan dengan rekan lain yang bisa bekerja fokus tanpa gangguan, tentu hasilnya berbeda. Namun proses itu sering luput dari perhatian atasan. Yang terlihat hanya hasil akhir, bukan beban kerja yang terpecah dan energi yang terkuras.
Situasi ini menciptakan tekanan ganda: fisik dan mental. Di satu sisi, pekerja berusaha patuh demi menjaga pekerjaan. Di sisi lain, rasa tidak dihargai perlahan mengikis kepercayaan diri. Jawaban sederhana seperti “baik Pak, akan saya kerjakan” sering menjadi tameng untuk bertahan, meski hati menanggung lelah.
Perlu dipahami, kebersihan bukan pekerjaan rendahan. Justru tanpa peran ini, roda kerja perusahaan akan terganggu. Keadilan dalam pembagian tugas dan cara berkomunikasi yang manusiawi adalah hal mendasar yang seharusnya dijaga oleh setiap pimpinan.
Menghargai kerja bukan hanya soal upah, tetapi juga soal sikap. Melihat proses, memahami beban, dan menempatkan tugas sesuai peran adalah bentuk penghormatan paling dasar terhadap sesama pekerja.
Catatan Redaksi
Artikel ini ditulis sebagai refleksi atas realitas yang masih sering terjadi di dunia kerja. Tujuannya bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan mengajak semua pihak melihat kembali makna keadilan, empati, dan penghargaan terhadap setiap jenis pekerjaan.
Penutup Reflektif
Kerja keras tidak selalu terlihat, tetapi selalu terasa oleh yang menjalaninya. Menghargai manusia di balik pekerjaan adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi kemanusiaan.
Tabel Ringkasan Artikel
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Tema | Beban kerja dan ketidakadilan |
| Fokus | Petugas kebersihan |
| Isu Utama | Tugas di luar jobdesk, kurang penghargaan |
| Nilai | Keadilan, empati, penghormatan |
| Gaya | Naratif reflektif |
Label: Redaksi Blog Orang Desa








