BERITA TERKINI, DUNIA DALAM BERITA, SEPUTAR INFORMASI TERPECAYA

Cara Cari Uang Gampang Dan Halal

Mengurangi Stres Keuangan Masalah keuangan adalah salah satu penyebab utama stres dalam kehidupan. Pemahaman keuangan yang baik memungkinkan Anda menghindari masalah keuangan yang tidak perlu, mengurangi stres, dan meningkatkan kualitas hidup Anda.

Sunday, 31 August 2025

Karawang Bersatu Deklarasi Damai #HAYUJAGAKARAWANG Tolak Anarkisme

Deklarasi #HAYUJAGAKARAWANG: Pemkab & Masyarakat Karawang Bersatu Tolak Anarkisme
Berita Karawang

Karawang Bersatu Deklarasi Damai #HAYUJAGAKARAWANG, Tolak Anarkisme

Pemkab, DPRD, dan elemen masyarakat kompak menyerukan aspirasi damai tanpa anarkisme.

Waktu baca: ~4 menit

Kabupaten Karawang — Dalam upaya menjaga stabilitas dan kerukunan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Karawang bersama seluruh elemen masyarakat menggelar Deklarasi Karawang Damai bertagar #HAYUJAGAKARAWANG pada Minggu, 31 Agustus 2025. Acara yang dihadiri tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan pelaku usaha ini menjadi bukti komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.

Deklarasi damai ini merupakan langkah antisipatif menyusul maraknya aksi unjuk rasa yang belakangan kerap berujung pada tindakan anarkis dan merugikan masyarakat. Melalui kegiatan ini, seluruh komponen masyarakat Karawang menyatakan tekad untuk menjaga persatuan dan menolak segala bentuk provokasi.

Deklarasi Damai Karawang dengan tagar #HAYUJAGAKARAWANG
Dokumentasi kegiatan Deklarasi Damai #HAYUJAGAKARAWANG di Karawang.

Lima Komitmen Utama Deklarasi Karawang Damai

Dalam deklarasi tersebut, para tokoh bersama jajaran eksekutif dan legislatif menyampaikan lima komitmen penting:

  1. Menjaga ketenteraman dan persaudaraan antarwarga masyarakat.
  2. Menolak provokasi serta anarkisme dalam menyampaikan pendapat.
  3. Mewujudkan Karawang yang aman dan damai untuk semua lapisan masyarakat.
  4. Menyadari bahwa Karawang adalah milik bersama (Karawang Anu Urang).
  5. Berdiri teguh demi Karawang yang lebih baik dan sejahtera.

Bupati: Aspirasi Ya, Anarkisme Tidak!

“Karawang ini milik kita semua. Menyampaikan aspirasi itu wajar, tapi jangan sampai dilakukan dengan cara-cara anarkis. Karena kalau fasilitas yang dibangun bertahun-tahun rusak hanya dalam sekejap, yang rugi adalah kita semua.”

Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, menegaskan bahwa menyampaikan aspirasi adalah hak warga, namun tidak boleh dilakukan dengan cara yang merusak dan merugikan. Menurut Aep, stabilitas keamanan menjadi kunci keberlangsungan pembangunan dan investasi di Karawang.

“Harapan saya, Karawang bisa terus solid. Dengan kebersamaan, kita bisa wujudkan Karawang yang aman, damai, dan maju,” pungkasnya.

DPRD Terbuka untuk Dialog Konstitusional

“Kami di DPRD selalu terbuka untuk mendengar aspirasi masyarakat, termasuk mahasiswa. Menyampaikan pendapat itu adalah hak, tapi harus dilakukan dengan dialog dan sesuai aturan.”

Senada dengan Bupati, Ketua DPRD Kabupaten Karawang, Endang Sodikin, menegaskan bahwa aspirasi masyarakat, termasuk mahasiswa, tetap harus disampaikan dengan cara-cara konstitusional dan santun.

Endang juga mengingatkan agar aksi-aksi mahasiswa di Karawang tetap fokus pada kepentingan lokal, khususnya isu-isu strategis yang langsung menyentuh masyarakat.

Kolaborasi untuk Masa Depan Karawang yang Lebih Baik

Deklarasi #HAYUJAGAKARAWANG bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah ikrar kolektif dari seluruh komponen masyarakat Karawang. Ini menunjukkan kesadaran yang tinggi akan pentingnya perdamaian dan kerukunan sebagai prasyarat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Dengan semangat “Karawang Anu Urang” (Karawang Milik Kita Bersama), gerakan ini diharapkan dapat meredam potensi konflik dan menjadi model bagi daerah lain dalam menjaga stabilitas daerah dengan cara-cara yang elegan dan penuh persaudaraan.

Berita Karawang Pemerintahan Keamanan Budaya Damai Investasi Daerah Info Terkini
↑ Kembali ke atas
Kumpulan Informasi Terpecaya
© 2025. Semua hak cipta dilindungi.
Share:

Dua Agenda Besar Timnas Indonesia Terancam Gara-Gara Isu Keamanan Dalam Negeri

Dua Agenda Besar Timnas Indonesia Terancam Gara-Gara Isu Keamanan Dalam Negeri

Dua Agenda Besar Timnas Indonesia Terancam Gara-Gara Isu Keamanan Dalam Negeri

Situasi keamanan yang mempengaruhi sepak bola Indonesia
DOK PSSI - Situasi keamanan yang mempengaruhi sepak bola Indonesia

Situasi keamanan dalam negeri yang sedang memanas turut berdampak pada dunia sepak bola Indonesia. Dua agenda internasional penting yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat kini berada di bawah ancaman pembatalan akibat demonstrasi yang melanda beberapa daerah.

Super League Terdampak, Pertandingan Ditunda

Aksi unjuk rasa yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia telah mempengaruhi jalannya kompetisi sepak bola domestik. Laga Super League 2025/2026 antara PSM Makassar melawan Persebaya Surabaya yang rencananya akan digelar di Stadion BJ Habibie, Parepare, pada Minggu (31/8/2025) terpaksa ditunda oleh operator kompetisi, I-League.

Penundaan ini dilakukan dengan pertimbangan keamanan mengingat situasi di Makassar yang dinilai tidak kondusif. Tidak hanya itu, pertandingan lain antara Persib Bandung dan Borneo FC juga berpotensi mengalami nasib serupa setelah Kapolda Jawa Barat mengeluarkan surat rekomendasi penundaan.

Timnas Putri U-16 Jadi Korban

Dampak demonstrasi bahkan sudah dirasakan langsung dalam pertandingan internasional. Laga ASEAN Cup U-16 Putri 2025 di Stadion Manahan, Surakarta, pada Jumat (29/8/2025) lalu terdampak gas air mata yang digunakan di luar stadion.

Suasana pertandingan menjadi mencekam ketika suporter di tribun VIP barat sayap kanan terpaksa dipindahkan ke area tengah untuk menghindari paparan gas. Bahkan, tradisi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum pertandingan terpaksa dibatalkan karena udara di sekitar stadion sudah tercemar gas air mata.

Timo Scheunemann, pelatih timnas putri U-16, mengaku merasakan suasana yang "agak mencekam" selama pertandingan berlangsung, terutama karena suara keributan dari luar stadion tetap terdengar jelas.

Ancaman untuk Dua Agenda Besar Timnas

Situasi keamanan yang tidak menentu ini mengancam dua agenda internasional penting yang sudah dijadwalkan PSSI:

1. FIFA Matchday Timnas Senior Indonesia

Timnas Indonesia senior di bawah asuhan Patrick Kluivert dijadwalkan akan menjamu Taiwan dan Lebanon pada 5 dan 8 September 2024 di Surabaya. Kedua tim tamu tersebut bahkan rencananya akan saling berhadapan terlebih dahulu pada 2 September dalam laga uji coba.

2. Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Timnas U-23 Indonesia akan menjadi tuan rumah grup kualifikasi Piala Asia U-23 2026 di Sidoarjo. Tiga negara yaitu Makau, Laos, dan Korea Selatan akan menjadi tamu. Pertandingan perdana antara Indonesia vs Laos dan Makau vs Korea Selatan dijadwalkan pada 3 September mendatang.

Kedatangan tim-tim asing tersebut dipastikan akan dilakukan lebih awal untuk aklimatisasi, tepat ketika situasi keamanan masih dalam kondisi mengkhawatirkan. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah PSSI mampu menjamin keamanan dan keselamatan para tamu negara tersebut?

Tantangan Diplomasi dan Keamanan

Situasi ini menjadi ujian berat bagi PSSI dan pihak berwenang Indonesia. Menjaga keamanan delegasi asing selama berada di Indonesia menjadi prioritas utama untuk menjaga reputasi negara di kancah internasional.

Kegagalan dalam memberikan jaminan keamanan yang memadai tidak hanya akan berakibat pada pembatalan pertandingan-pertandingan tersebut, tetapi juga dapat merusak hubungan diplomatik dengan negara-negara yang terlibat dan mengurangi kepercayaan federasi sepak bola internasional terhadap kemampuan Indonesia sebagai tuan rumah event olahraga.

Langkah Antisipasi yang Diperlukan

PSSI perlu segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan pemerintah daerah setempat untuk menyusun rencana keamanan yang komprehensif. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan termasuk:

  • Penambahan pengamanan berlapis di sekitar hotel dan stadion
  • Penyediaan rute alternatif menuju venue pertandingan
  • Penyiapan protokol darurat jika terjadi gangguan keamanan
  • Komunikasi transparan dengan federasi sepak bola negara tamu mengenai kondisi aktual

Dukungan dari seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia dan masyarakat luas sangat dibutuhkan untuk memastikan agenda-agenda internasional ini dapat berjalan lancar tanpa gangguan.

Share:

Marah! Scott Parker Ledak VAR Usai Burnley Dipecundangi Manchester United

VAR dan Kontroversi Tak Berkesudahan: Apakah Sepak Bola Menuju "Game yang Paling Steril"?

VAR dan Kontroversi Tak Berkesudahan: Apakah Sepak Bola Menuju "Game yang Paling Steril"?

Ilustrasi wasit yang sedang berkonsultasi dengan monitor VAR
Ilustrasi wasit yang sedang berkonsultasi dengan monitor VAR

Belum juga tiga pekan bergulir, Liga Premier Inggris musim 2025/2026 sudah kembali dihebohkan oleh sejumlah kontroversi terkait Video Assistant Referee (VAR). Kali ini, dua laga yang melibatkan Manchester United vs Burnley dan Chelsea vs Fulham memicu kemarahan para manajer dan memantik perdebatan sengit di kalangan penggemar sepak bola.

Drama Injury Time di Old Trafford: Hadiah Penalti untuk Setan Merah

Pertandingan Manchester United melawan Burnley di Old Trafford berakhir dengan drama injury time yang pahit bagi tim tamu. Dengan skor imbang 2-2, wasit Sam Barrott awalnya membiarkan permainan berlanjut saat Jaidon Anthony dari Burnley melakukan grabbing (menarik baju) terhadap Amad Diallo dari MU di ujung area penalti.

Namun, setelah diminta meninjau ulang insiden tersebut di monitor pinggir lapangan oleh VAR Stuart Attwell yang berada ratusan kilometer jauhnya, Barrott mengubah keputusannya dan menganugerahkan penalti bagi Setan Merah. Bruno Fernandes yang menjalankan tugas dengan baik memastikan MU meraih kemenangan 3-2.

"Di lapangan, wasit tidak memberikan pelanggaran, lalu kami 'me-wasit-ulang' permainannya. Ini bukan lagi keputusan wasit utama, melainkan seorang lelaki di dalam kotak berjarak 200-an mil," ujar Parker dengan nada frustrasi, seperti dikutip BBC Match of the Day.

Gol Burnley yang Dianulir: Batas Offside Semakin Seni

Kontroversi bagi Burnley sebenarnya sudah dimulai lebih awal. Pada babak kedua, striker mereka Lyle Foster berhasil membobol gawang MU setelah mengalahkan kiper Altay Bayindir. Sorak-sorai pun pecah. Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sejenak.

Teknologi offside semi-otomatis (semi-automated offside technology) menunjukkan bahwa Foster berada dalam posisi offside sangat marginal. Bagian lengannya dinyatakan lebih depan dibanding bek MU, Diogo Dalot. Keputusan yang sempit dan membuat Parker semakin geram.

"Kami mungkin hanya berjarak beberapa bulan atau setahun lagi dari situasi di mana kami tidak akan merayakan gol sama sekali. Saya berdiri di pinggir lapangan, Anda mencetak gol dan saya merasa ada sejuta hal yang melintas di pikiran—seperti sebuah checklist. Apakah offside? Apakah dia menginjak kakinya dua menit sebelumnya?"

Kemarahan Silva dan Fulham: "Keputusan yang Sulit Dipahami"

Kontroversi VAR tidak hanya terjadi di Old Trafford. Pada laga yang lebih awal, Fulham harus menelan pil pahit kekalahan 2-0 dari Chelsea di Stamford Bridge akibat dua keputusan yang sangat contentious (mengundang perdebatan).

Pertama, gol remaja mereka, Josh King, pada menit ke-21 dianulir. Wasit Rob Jones, setelah meninjau ulang, memutuskan bahwa Rodrigo Muniz melakukan foul (pelanggaran) terhadap Trevoh Chalobah dalam proses membangun serangan. Banyak yang menilai kontak antara Muniz dan Chalobah sangat minimal dan tidak disengaja.

Kemarahan Fulham mencapai puncaknya ketika Chelsea kemudian diberikan penalti karena bola mengenai tangan Ryan Sessegnon. Marco Silva, manajer Fulham, begitu murka.

"Semua orang terkejut dengan apa yang terjadi sore ini. Tidak ada yang bisa meyakinkan saya bahwa itu adalah pelanggaran yang obvious (jelas) dari Rodrigo. Sulit untuk dimengerti," ujarnya kepada Match of the Day.

Sudah Saatnya Mantan Pemain Bergabung dalam Tim VAR?

Gelombang kritik terhadap implementasi VAR semakin menjadi. Stephen Warnock, mantan pemain Liga Premier, menyuarakan keresahan yang sama. Ia merasa sepak bola sedang "berjalan mundur" dan tidak lagi menyenangkan untuk ditonton karena setiap gol selalu diselidiki dengan forensik yang berlebihan.

Warnock pun mengusulkan solusi: masukkan mantan pemain profesional ke dalam tim VAR.

"Mereka [wasit] tidak selalu melihat intricacies (seluk-beluk rumit) permainan. Kami [mantan pemain] tahu permainannya, kami mencintai permainan ini dan kami ingin melihatnya dimainkan dengan cara yang benar dan melihat hasil yang benar," tegas Warnock.

Usulan ini bukan tanpa alasan. Mantan pemain dianggap memiliki "feel" atau feeling alami terhadap dinamika permainan, seperti niat seorang pemain, intensitas kontak, dan situasi-situasi yang bagi wasit biasa mungkin terlihat sebagai pelanggaran, tetapi bagi pesepakbola adalah bagian dari permainan yang wajar.

Masa Depan VAR: Antara Keadilan dan Jiwa Sepak Bola

Tujuannya mulia: mencapai keadilan dan akurasi keputusan. Namun, dalam praktiknya, VAR justru sering menciptakan ketidakpastian baru, mematikan euforia, dan mengubah fokus dari permainan itu sendiri menjadi "forensik checking" setiap menit.

Pertanyaannya sekarang, sampai di titik mana kita mau mengorbankan flow dan emosi natural sepak bola—seperti sorak-sorai spontan setelah sebuah gol—demi sebuah keputusan yang "sempurna" secara hukum tetapi terasa steril dan tidak manusiawi?

Kontroversi ini dipastikan akan terus berlanjut. Solusinya mungkin tidak mudah, tetapi diskusi terbuka tentang perbaikan sistem—termasuk usulan melibatkan mantan pemain—perlu terus digulirkan agar teknologi benar-benar menjadi pelayan bagi sepak bola, bukan majikannya.

Share:

Blog Archive

Popular Posts